Saya minoritas; Saya Indonesia ?

254

Itulah yang terlintas di benak saya, 9 Mei 2017 lalu, ketika vonis 2 tahun penjara Ahok dibacakan hakim ketua. Saya merasa sedih atas vonis tersebut bukan karena saya membela Ahok, namun karena saya merasa kesatuan, kebhinekaan dan persatuan yang pada awalnya dibangun oleh pendiri negara ini runtuh seketika.

Ahok dianggap sebagai pelaku penodaan agama. Menurut saya, Ahok memang salah dengan tutur katanya yang terkadang kurang baik. Namun sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, saya melihat Beliau adalah orang yang baik, dan mau berubah menjadi orang yang lebih baik. Permohonan maaf sudah disampaikan, perubahan sikap sudah dilakukan. Tapi sepertinya itu belum cukup. Sebagai minoritas, Ahok (kami) tidak punya cukup tenaga dan kekuatan massa yang bisa dikerahkan seperti aksi – aksi sebelumnya yang dilakukan oleh pihak mayoritas. Mungkin juga teriakan keadilan kaum minoritas kurang bergaung dibandingkan dengan teriakan keadilan dari kaum mayoritas.

Seribu tanya berkecamuk di pikiran saya saat itu. Bukankah kesempurnaan itu milik Tuhan semata ? Tuhankah kita sehingga kita dapat menghakimi orang lain ? Apakah kami kaum minoritas masih dijamin kebebasan dan haknya di negara yang berideologikan Pancasila ini ?

Saya adalah seorang minoritas, seorang non muslim yang lahir dan besar di Lhokseumawe, Aceh. Menjadi kaum minoritas di tanah air yang saya banggakan ini bukanlah sebuah masalah besar bagi saya saat itu. Walaupun di masa kecil saya pernah mengalami diskriminasi karena status minoritas, saya menganggap hal tersebut sebagai panggilan dan perjuangan yang harus saya kerjakan di dunia. Tuhan menetapkan saya lahir di Indonesia sebagai minoritas dan saya yakin rencana Tuhan pasti yang terbaik untuk saya dan kaum minoritas di Indonesia. Saya percaya ada beberapa hal dalam hidup yang tidak bisa saya pilih (kedaulatan Tuhan) yaitu: orang tua, keluarga, dan tentunya tanah air.

Oleh karena itu saya bersyukur Tuhan memberikan saya tanah air Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, dimana suara kami kaum minoritas diperhatikan. Namun rasa bangga dan syukur itu akhir – akhir ini tercoreng. Mulai dari tudingan kafir, orang yang tidak bertuhan dan tudingan negatif lainnya yang saya alami dan saya yakini juga dialami oleh kaum minoritas lainnya di Indonesia. Terkadang ingin menjawab tudingan tersebut dan melawannya, namun mengingat fakta kaum minoritas sekarang sedang tersudut, saya urungkan niat tersebut. Kami memang minoritas tetapi kami bukan pelaku kriminal, kami bukan orang yang tidak beragama apa lagi tidak bertuhan.

Saya merenung dan berpikir, benarkah saya seorang minoritas ? Akhirnya saya sampai pada jawaban YA, saya seorang minoritas. Minoritas yang namun bukan hanya minoritas dari sisi suku, agama, ras, dan golongan saja. Tetapi juga minoritas dalam segi idealisme dan integritas. Apapun itu, saya sebagai kaum minoritas memilih untuk tetap menjalankan tugas dan kewajiban sebagai warga Negara yang baik dan saya akan tetap melakukan hal – hal positif untuk bangsa ini.

Pada akhir perenungan, saya menolak  bahwa saya dikatakan minoritas. Karena bangsa ini tidak dibangun berdasarkan minoritas maupun mayoritas. Bangsa ini dibangun dengan semangat persatuan, persaudaraan dan kasih dengan sesama. Saya berharap Tuhan memperhatikan dan melindungi Indonesia dan seluruh masyarakatnya apapun latar belakangnya. Saya berharap hukum bisa bertindak adil untuk semua kalangan. Sudah saatnya kita merobohkan benteng suku, agama, ras dan golongan yang memisahkan kita dan menggantinya dengan benteng kesatuan dalam keberagaman yang sudah ditetapkan para pendiri Bangsa ini.

Kalau di awal tulisan ini saya bertanya apakah saya minoritas dan saya Indonesia, di akhir tulisan ini saya tidak ingin mengatakan saya bukan minoritas dan saya Indonesia; tetapi “Saya Indonesia karena apapun yang terjadi di Indonesia, saya tetap bangga dan mencintai Indonesia, tanah kelahiran yang sudah Tuhan percayakan bagi saya.” Hidup Indonesia ! Tuhan memberkati Indonesia !

Advertisements
Posted in Speak Out... !!! | Leave a comment

Cinta di Negri Serba Ada#KI Yogyakarta 2016

Malamku di Kamis 4 Februari 2016 tidak sama dengan malam lainnya. Malam ini saya bergegas ke Stasiun Pasar Senen untuk berangkat ke Yogyakarta. Liburan ??? Hm… bisa jadi…. (ingat salah satu program acara di TV swasta kita). Liburan memang jadi bumbu saya ke Yogyakarta, namun sesungguhnya saya berangkat untuk berpartisipasi di Kelas Inspirasi Yogyakarta.

b1e97014-5789-46a2-af08-a0edcd153048Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, saya bertemu dengan teman – teman dari KIJP yang “bedol pulau” ke KI Yogyakarta kali ini. Sebenarnya tidak semua berangkat dari Stasiun Pasar Senen, ada yang berangkat dari Stasiun Gambir juga. Itupun yang berangkat dari Senen terpisah diberbagai kereta. Saya termasuk yang terpisah sendiri di Kereta Senja Utama Solo. Tapi jangan sedih… sepanjang perjalanan grup whatssapp “KIJP goes to KIY” menyapa saya sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Yogya, di Jumat Pagi, grup Pasar Senen yang terpisah di berbagai kereta itu bertemu di gerbang kedatangan untuk bergabung dengan grup Gambir yang sedang sarapan di pelataran Mall Malioboro. Berjalan kaki dari stasiun, menenteng dua tas dan gitar tak terasa berat karena diiringi kegilaan dan semangat dari teman – teman KIJP.

3ff1b0da-04a1-4868-a7e3-251aafde466a

Selesai sarapan, foto – foto, dan bersendagurau, saya pun bingung mau kemana. Waktu check-in hostel yang saya sudah saya booking sebelumnya masih lama, tepatnya pukul 14.00. Bersyukur ada relawan KIJP, Nia, yang bersedia menampung saya dan beberapa teman di rumahnya sementara. Bahkan mamanya menyiapkan sarapan untuk kami.

Selesai istirahat, naga di perut pun berontak. Kami berjalan kaki ke Kalimilk untuk makan siang. Sebagai penggemar susu saya senang berkesempatan mengenal salah satu produk susu local Yogyakarta. Seporsi fettucini dan 1 gelas susu coklat porsi gajah pun berhasil menenangkan naga di perut saya. Selepas makan siang, saya berangkat ke Edu hostel untuk istirahat sejenak sebelum bertemu dengan teman – teman satu kelompok saya di KI Yogyakarta ini.

Malam itu, ditemani hujan yang cukup deras, bersama motor rental, saya berangkat ke Indie Cology Café untuk mempersiapkan hari inspirasi besok di SDN 1 Turi. Berkenalan dengan teman – teman hebat membuat saya semakin semangat. Ada pun teman – teman satu kelompok saya Revangga, Hadiyati Mutmainah (fasilitator), Gitarani Prastuti, Nurvita Wikansari,Daniel Joel Immanuel Kairupan, Enung Karwati, Ajeng Karina Sari, Gun Permadi, Dedy Widayanto, Muhammad Hafidullah (relawan inspirator), Santi Dwi Oktaviani, Bryan Citrasena (Fotografer) & Gevi Noviyanti (Videografer). Kami mempersiapkan semua persiapan dengan matang untuk anak – anak SDN Turi 1.

Saya salut kepada teman – teman, selain karena ada beberapa yang dari Bandung dan Jakarta,selain itu, saya salut karena hujan deras tak mampu memadamkan api semangat yang sudah bergelora. Senda gurau, canda dan tawa ikut menghangatkan suasana malam itu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 dan kami pun memutuskan kembali ke tempat kami masing – masing, beristirahat dengan harapan bisa memberikan yang terbaik keesokan harinya.

Alarm pukul 4.30 menyapa saya, membangunkan saya di Sabtu pagi 6 Februari 2016 untuk memulai aktivitas KI Yogyakarta. Setelah berkumpul di Stasiun Condong Catur, kami pun berangkat ke SD Turi 1. Perjalanan kami tempuh kurang lebih 1 jam ke arah utara. Pemandangan Gunung Merapi kami nikmati dan semakin membuat kami semangat di pagi itu. Sesampainya di SD tersebut, kami disambut oleh Kepala Sekolah, Ibu Nur Hayati, M. Pd, dan guru – guru begitu juga anak – anak yang merasa asing melihat kami. Setelah anak – anak dikumpulkan di lapangan dan kami diperkenalkan oleh ibu Kepsek, keasingan itu mulai perlahan luntur. Terutama ketika kami mulai memperkenalkan diri kami satu persatu dan ditutup dengan flash mob lagu Kembali Sekolah yang dipopulerkan Sherina tahun 1999 yang lalu.

fd4d4943-be14-49a3-b009-b0cd6a7e089c

Setelah itu anak – anak masuk ke kelas dan kami pun beraksi. Kebetulan saya kebagian untuk mengajar kelas 3, 2, 4 dan 6. Sejujurnya saya sudah bawa gitar jauh – jauh dari Jakarta, yang digunakan untuk mengajar anak – anak. Jujur gitar ini tidak pernah lepas dari saya ketika saya mengajar baik di KIJP maupun di KI kota lain. Namun jangan sedih, saya sudah menyiapkan back up plan. Laptop, Smartphone dan Tablet menyelamatkan saya. Setiap kelas berkesan dan memberikan inspirasi bagi saya. Meskipun tidak tinggal di pusat kota, mereka sangat antusias ketika saya menjelaskan profesi saya dan bagaimana telekomunikasi via internet dan handphone saat ini bisa dilakukan.

Selain itu ada dua hal yang cukup menyentuh saya. Pertama ketika saya masuk ke kelas dua saya sangat terkesan ketika melihat mereka punya tepuk kelas 2 SDN Turi 1 ! Jujur, hal ini jarang saya temukan di SD – SD lain. Ternyata wali kelas mereka sudah cukup aware untuk melakukan hal – hal kreatif di dalam kelas yang pada akhirnya dapat menambah semangat belajar anak – anak. Yang kedua cukup membuat saya tersentuh ketika ada seorang anak dipulangkan secara paksa oleh orang tuanya dengan cara yang kurang layak. Saya tidak mengajar di kelas anak ybs, namun berdasarkan cerita rekan relawan yang ada ketika peristiwa itu terjadi, anak tersebut memang anak yang hiper aktif. Anak tersebut “mengamuk” di dalam kelas yang sempat membuat Ibu gurunya terluka. Maksud saya menyampaikan hal ini bukan untuk membesar – besarkan kekurangan yang terjadi pada anak tersebut. Namun pengalaman mengajar di Kepulauan Seribu yang merupakan SD Inklusi serta dibekalinya kami para relawan dengan materi “How to handle ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)” membuat saya menyadari bahwa anak tsb merupakan ABK. ABK dapat berprestasi dengan baik jika ditangani dengan metode yang tepat. Saya tidak menyalahkan guru – guru SDN Turi 1, karena mereka belum pernah mendapatkan informasi maupun pelatihan bagaimana menangani ABK. Begitu juga dengan orang tuanya, karena mayoritas orang tua anak – anak SD Turi 1 ini merupakan buruh tani yang tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang hal ini juga. Saran saya ke depannya panitia KI Yogyakarta dapat lebih aware untuk informasi ABK di sekolah – sekolah yang dibutuhkan sehingga bisa relawan boleh dipersiapkan lebih lagi bahkan mungkin bisa mempersiapkan guru –guru dengan SDM yang ada dari relawan KI Yogyakarta.

Setelah selesai mengajar, kami pun melakukan foto bersama dan anak – anak dan guru – guru. Anak – anak pun pulang namun kami belum beranjak dari SDN Turi 1. Kami dijamu makan siang oleh guru – guru SDN Turi 1 sambil bercakap – cakap dan mendengar kesan pesan guru – guru. Saya tersentuh dengan penerimaan guru – guru terhadap kami. Di tengah kesederhanaan mereka, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk kami. Selain kue – kue kecil tersedia untuk kami di waktu mengajar, ternyata kami juga dijamu makan siang. Kehangatan itu pun berlanjut ketika kami bercakap – cakap dengan guru – guru. Akhirnya kami tahu, bahwa anak – anak SD ini memerlukan buku bacaan yang baik untuk melengkapi kondisi perpustakaan mereka. Selain itu, kondisi ekonomi orang tua para siswa juga menjadi perhatian guru – guru, dikarenakan hal ini menghambat anak – anak untuk dapat mengecap pendidikan dengan baik. Mereka meminta tolong kami sekiranya bisa membantu untuk hal ini. Saya bersyukur dan selalu percaya, dimana ada niat baik, pasti Tuhan akan selalu buka jalan untuk kami. Kami berinisiatif untuk mengumpulkan buku – buku yang baik untuk kami serahkan ke SD Turi 1 ini. Program ini kami buka sepanjang tahun, dan melalui tulisan ini, Saya mengajak teman – teman yang membaca tulisan ini dan terbeban untuk membantu kami. Saya dan teman – teman relawan atas nama anak – anak SD Turi 1 mengucapkan terima kasih untuk bantuannya.

20160315050205

Akhirnya kesibukan saya di hari itu ditutup dengan bermalam minggu bersama teman – teman KIJP di Kopi Joss di area Malioboro bersama teman – teman KIJP. Kami saling berbagi cerita pengalaman selama mengajar hari itu. Dan sekali lagi saya bersyukur, saya terinspirasi dengan cerita teman – teman saat itu.

2744e559-a2ca-488c-920b-f5016bfe4774

Keesokan harinya, di hari Minggu pagi, sebelum mengikuti refleksi bersama semua relawan di KI Yogyakarta, saya menyempatkan diri untuk beribadah di salah satu gereja tua yang ada di Malioboro, GPIB Marga Mulya. Melihat kerukunan rakyat Yogyakarta juga menyentuh hati saya. Menurut saya hal ini juga merupakan hal yang harus tetap kita pelihara supaya Indonesia tetap bersatu dan rukun di tengah keberagaman yang ada. Setelah mengikuti kebaktian, saya pergi ke pendopo gubernur. Senang di sana bertemu dengan seluruh relawan dengan semangat yang sama, yaitu memberikan sumbangsih untuk anak – anak Indonesia secara umum dan Yogyakarta secara khususnya.

Sebelum saya pulang ke ibu kota, saya dengan teman – teman SD Turi 1 makan siang bersama, bersenda gurau dan berbagi pengalaman hidup. Saya bersyukur boleh mengenal orang – orang hebat yang mau bersusah – susah untuk anak – anak tanpa pamrih. Selalu semangat untuk menginspirasi teman – teman, segala hal baik yang kita kerjakan pasti tidak akan sia – sia. Keep in touch guys ! Waktu pun berlalu begitu cepat, sehingga saya harus bergegas ke stasiun. Capek, senang, terharu, semua perasaan bercampur aduk ketika harus meninggalkan Yogyakarta. Terima kasih untuk semua asa dan cinta yang saya rasakan di negeri serba ada ini ya Tuhan. Untuk anak – anak SD Turi 1, kondisi boleh menghambat kita untuk bercita – cita tinggi, tapi saya yakin dengan usaha keras dan doa yang tak hentinya., Tuhan pasti buka jalan dan membantu kita. Saya bersyukur boleh mengenal kalian. Sampai ketemu di lain kesempatan.

Video kegiatan kami di SD Turi 1 dapat dilihat di link berikut : https://goo.gl/CfKt3v

Posted in Kelas Inspirasi | Leave a comment

10 November … “Hari Pahlawan”

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2015 !!! Semoga bangsa Indonesia tidak melupakan jasa – jasa para pahlawan yang sudah berjuang untuk Indonesia. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat saya atas jasa para pahlawan, tanggal 10 November merupakan tanggal yang penting bagi keluarga kami karena 36 tahun yang lalu, dua orang pahlawan dalam hidup saya memulai kehidupan berumah tangga. Ya, 10 November 1979 merupakan tanggal pernikahan Berman Simanjuntak dan Marguerita Pardede, papa dan mama saya. 36 tahun bukan waktu yang singkat untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Berbeda dengan pasangan pada umumnya, Papa dan Mama tidak mendahului masa pernikahan mereka dengan pacaran. Ya, Papa dan Mama adalah pariban. Bagi yang belum tahu pariban itu apa, Pariban secara singkat merupakan sebutan untuk sepupu yang konon di adat Batak sangat dianjurkan untuk dijadikan keluarga. Menurut saya ada alasan yang rasional mengapa para leluhur orang Batak menetapkan hal ini.

Suku Batak menganut patrilineal. Sehingga anak laki – laki akan disebut marga dari ayahnya sedangkan seorang anak perempuan akan disebut boru dari ayahnya. Sebagai contoh, Berman Simanjuntak memiliki 3 orang anak laki – laki yang bermarga Simanjuntak yaitu Hendrik Simanjuntak, Ferdinand Simanjuntak dan Frans Simanjuntak, dan seorang anak perempuan yang disebut boru Simanjuntak yaitu Bertasia br. Simanjuntak.

Perkawinan pariban ini dimaksudkan untuk tetap menjaga hubungan kekerabatan antara kedua keluarga. Mungkin lebih gampang jka saya menggunakan contoh

ParibanSehingga jika E. Simanjuntak menikahi F. br. Pardede, maka hubungan kekerabatan antara kedua keluarga Simanjuntak & Pardede tetap terjaga. Dua keluarga disatukan kembali.

Meskipun dengan perkembangan jumlah orang Batak yang sudah banyak, bukan keharusan pariban adalah sepupu kandung, jika seorang pria mengenal wanita yang bermarga sama dengan ibunya itu juga sudah disebut pariban atau jika seorang wanita mengenal pria yang mempunyai ibu bermarga sama dengan dirinya maka hubungan mereka juga sudah disebut pariban.

Namun dengan adanya perkembangan zaman dengan masuknya agama dan globalisasi fenomena pariban ini banyak mendapat respon yang berbeda – beda. Meskipun dari sisi adat diperbolehkan,namun belum tentu jika dipandang dari sudut pandang yang lain (agama, kesehatan dan lainnya).

Kembali ke pembahasan awal, meskipun papa dan mama “dijodohkan” , saya bersyukur lahir dan dibesarkan di keluarga ini. Saya bersyukur kalau Tuhan mempersatukan mereka dengan cara yang unik dan bisa diceritakan ke anak cucunya kelak. Saya bersyukur kalau Papa dan Mama boleh tetap langgeng selama 36 tahun ini, walau saya yakin pasti ada saat – saat sulit untuk keluarga kami. Tapi dengan kerja sama, saling mengasihi antar semua anggota keluarga, keluarga ini tetap solid sampai saat ini.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke – 36 Papa & Mama, kiranya kelanggengan, semangat dan perjuangan Papa & Mama dalam menjaga keluarga kita dapat Ipran (panggilan saya di rumah) jadikan bekal ketika berkeluarga kelak. Sebuah keluarga yang tetap mengandalkan Tuhan sebagai kepala dari keluarga ini. Love you Pa.. Ma… May God bless you always…. ^-^

Berman Simanjuntak & Marguerita br. Pardede

Berman Simanjuntak & Marguerita br. Pardede

Posted in Speak Out... !!! | Leave a comment

Rayuan Pulau Kelapa … #KIJP Batch 4

“Tanah airku Indonesia, negeri elok amat ku cinta. Tanah tumpah darahku yang mulia, yang ku puja s’panjang masa.” Ya… ini adalah penggalan lagu wajib nasional ciptaan Ismail Marzuki. Namun yang saya bicarakan disini bukan Rayuan Pulau Kelapa sebagai lagu wajib nasional, tetapi Rayuan Pulau Kelapa dalam arti yang sebenarnya. Saya terayu untuk kembali ke Pulau Kelapa, yang sudah saya kunjungi bulan Agustus 2014 yang lalu.

Pulau Kelapa - Harapan & SDN 02 Kelapa

Pulau Kelapa – Harapan & SDN 02 Kelapa

Pulau Kelapa merupakan salah satu pulau terpadat di wilayah Kepulauan Seribu. Menurut cerita asal mula dinamakan Pulau Kelapa karena dahulunya pulau tersebut banyak di tumbuhi pohon Kelapa. Penduduk yang menghuni Pulau Kelapa sangat heterogen, didominasi oleh orang-orang Betawi, Banten, Bugis Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Menurut cerita masyarakat setempat banyak hal yang menyebabkan suku dari daerah tersebut menetap di Pulau Kelapa, contohnya kejadiannya pada jaman dahulu bila para pelaut yang melintasi perairan Kepulauan Seribu dengan tujuan ke Pelabuhan Sunda Kelapa mengalami kecelakaan dalam berlayar. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam dan mereka pun tidak bisa meneruskan perjalanan, mereka ditolong oleh penduduk setempat. Karena kapal mereka tidak bisa meneruskan perjalanan, akhirnya mereka menetap di pulau tersebut dan dalam perjalanan waktu terjadi perkawinan dengan penduduk setempat. Selain peristiwa tersebut banyak hal yang menyebabkan banyaknya suku bangsa yang menetap di Pulau Kelapa.

Pulau Kelapa berdekatan dengan Pulau Harapan. Pada masa lalu Pulau Kelapa dengan Pulau Harapan terpisah. Kemudian sekitar tahun 1950-an, dibangun jalan yang menghubungkan antara kedua Pulau tersebut dengan panjang sekitar 200 meter. Tujuan pembangunan jalan tersebut adalah untuk mempermudah akses transportasi karena pada saat itu telah terjadi migrasi masyarakat Pulau Kelapa ke Pulau Harapan dikarenakan penduduk Pulau Kelapa yang cukup padat. Sedangkan pada masa kini intensitas pendatang ke pulau ini cukup tinggi dan menyebabkan Pulau Kelapa sebagai pulau paling banyak penduduknya di Kepulauan Seribu.

Mata pencaharian penduduk Pulau Kelapa sebagian besar adalah nelayan, transportasi laut didominasi kapal ojek dengan tujuan yang bermacam-macam seperti Muara Angke, Mauk, Kronjo sedangkan dengan tujuan Marina Ancol menggunakan Kapal Kerapu.

KIJP batch 4 kali ini bertemakan “Kembali ke Pulau” dimana relawan KIJP yang lama kembali ke pulau – pulau yang sudah pernah dikunjungi sebelumnya untuk follow up dari kegiatan Sekolah (S), Masyarakat (M) dan Lingkungan (L) yang dilaksanakan batch 3 yang lalu. Namun yang terlibat di batch ini tidak hanya relawan – relawan lama, namun ada relawan – relawan baru yang ikut bergabung. Kami kembali ke 8 Pulau (Pulau Tidung, Pulau Payung, Pulau Pari, Pulau Lancang, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Harapan dan Pulau Kelapa) dan mengunjungi pulau yang baru pertama kali dikunjungi untuk kegiatan KIJP yaitu Pulau Untung Jawa. Total kami berkegiatan di 13 SD yang tersebar di 9 pulau tersebut dengan 137 relawan inspirator dan dokumentator.

Kami berangkat dari Marina, Ancol tanggal 11 – 13 Oktober 2015 yang lalu, menggunakan 2 kapal yang terbagi untuk kapal jalur utara ( Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa dan Pulau Harapan) dan kapal jalur selatan (Pulau Pari, Pulau Tidung, Pulau Payung dan Pulau Lancang). Setelah kurang lebih 3 jam 30 menit perjalanan mengarungi laut Jawa, akhirnya 50 relawan Pulau Harapan dan Kelapa tiba. Karna relawan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan berencana untuk melakukan kegiatan dengan masyarakat bersama – sama, kami pun memutuskan tinggal di home stay yang sama di home stay Pak Rambo yang terletak di Pulau Harapan. Homestay yang menghadap pantai langsung dan membuat melupakan hiruk pikuk Jakarta.

All Relawan KIJP Batch 4

All Relawan KIJP Batch 4

Setelah istirahat sejenak dan makan siang, kami mulai berkenalan lebih dekat lagi dengan sesama relawan. Setelah itu kami pun mulai kegiatan dengan masyarakat. Kegiatan dengan masyarakat kali ini terbagi atas 3 kegiatan yaitu kegiatan dengan anak – anak kelas 1 – 3 dari 3 SD yang ada di pulau Harapan dan Kelapa, kegiatan dengan anak – anak kelas 4 – 6 dan kegiatan dengan ibu – ibu yang ada di Pulau tersebut. Kegiatan dengan anak – anak kelas 4 – 6 berupa games team building sedangkan kegiatan dengan ibu – ibu berupa kegiatan menjahit tanpa mesin jahit dengan pola yang mudah dengan harapan dengan ini ibu – ibu bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dijual kembali.

Bagaimana dengan kegiatan anak – anak kelas 1 – 3 ? Hehehe… kebetulan saya terlibat di bagian ini, jadi saya bisa menjelaskan cukup terinci ^-^ Kegiatas sore itu kami mulai dengan membariskan mereka di halaman sekolah SDN 01 Kelapa. Kami mulai dengan mewarnai. Kami menyediakan 6 jenis makanan yang harus mereka warnai yang terdiri dari 3 makanan tidak sehat dan 3 makanan sehat. Saya ikut bergabung dengan anak – anak ini  untuk mewarnai. Senang, seperti kembali kecil lagi (lupa umur.com) dan melihat antusias mereka untuk mewarnai. Selesai mewarnai, dijelaskan tentang makanan sehat dan makanan tidak sehat dengan harapan anak – anak menjadi tahu apa yang mereka konsumsi saat ini sehat atau tidak. Nah… sebagai penutupan dari penjelasan kami mengajari anak – anak untuk cuci tangan dengan bernyanyi ” 7 langkah cuci tangan ” lengkap dengan gayanya. Sebenarnya lagu ini diadaptasi dari lagu Anak Kambing Saya, sebuah lagu dari daerah Timor. Anak – anak sangat antusias apalagi ketika cuci tangan itu dipraktekkan dengan cairan pencuci tangan. Rangkaian kegiatan sore itu ditutup dengan dongeng tentang makanan sehat oleh salah satu relawan yang berprofesi pendongeng yaitu Ale. Bukan hanya anak – anak yang terbius dengan dongengnya, tapi relawan, guru dang orang tua yang hadir juga ikut terbius. Good job Ale !

Anak - Anak Kelas 1 - 3 Mewarnai

Anak – Anak Kelas 1 – 3 Mewarnai

Lagu

Lagu “Tujuh Langkah Cuci Tangan”

Keesokannya hari inspirasi dimulai. Jika batch 2 saya berkesempatan berbagi tentang profesi saya di SDN 01 Kelapa, kali ini saya mendapatkan kesempatan di SDN 02 Kelapa.  Di SDN 02 Kelapa ini ada 16 relawang pengajar dimana 3 diantaranya sudah terlibat di KIJP batch sebelumnya, jadi ada 13 relawan pengajar baru. Mereka adalah Evin (Polisi), Frans (IT Network Engineer), Ale (Pendongeng), Arwin (Electrical Inspector), Deni (Tax Officer), Gisca (Advokat), Tia (Apoteker), Nana (Analis Energi terbarukan), Fani (MC/Penyiar Radio), Wneing (Analis Kesehatan), Gita (Konsultan Lingkungan), Endah (Infrastructure Development Consultant), Humaina (Oil and Gas Cullture Transformation), Anna (Product Development),  Linda (Tour Guide), Cika (Komunikasi). Kegiatan hari inspirasi juga didukung 4 orang tim dokumentasi yaitu Hairil (Fotografer), Gita (Fotografer), Allan (Videografer), Raissa (Videografer)

Relawan SDN 02 Kelapa

Relawan SDN 02 Kelapa

Pagi itu jika dibandingkan dengan relawan – relawan SD lain, kami bangun paling pagi (bukan karna sok rajin), mandi paling pagi (bukan karna sok bersih), sarapan paling pagi (bukan karena kelaparan) dan berangkat paling cepat (bukan karna takut macet) tapi karena letak homestay kami di pulau Harapan (di timur Pulau Harapan dan Kelapa) sedangkan SDN 02 Kelapa terletak di ujung barat. Dibutuhkan waktu kurang lebih 15 – 20 menit dengan menggunakan becak untuk sampai ke SD, melewati pemukiman penduduk yang padat dengan jalan yang kurang lebih hanya cukup untuk 1 becak.

Upacara dimulai pukul 6.30 dipimpin oleh kepala sekolah, Pak Manus. Mengenai Pak Manus, saya sempat bercakap – cakap dengan beliau ketika kegiatan di hari Minggu sore. Beliau bercerita kalau beliau bersuku Bima dimana orang tuanya terdampar dikarenakan kapal ayah beliau karam sehingga akhirnya menetap di Pulau Kelapa. Beliau sangat senang dan melihat dari 2 kali KIJP berkegiatan di SD tersebut (batch 2 & 3), terlihat anak – anak lebih bersemangat untuk belajar. Setelah upacara selesai dilanjutkan oleh perkenalan relawan oleh ketua kelompok kami, Evin. Dan setelah dilanjutkan dengan flash mob “Menggapai Bintang” , sebuah lagu karangan Marsha Chikita Fawzi (relawan KIJP yang pada batch 2 yang lalu ke SD ini), yang dipimpin oleh saya.

Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar, dimana semua relawan mengenalkan profesi mereka. Kali ini saya mengajar anak – anak kelas 2B dan 3B. Seperti biasa saya mengajar tentang IT Network Engineer dengan permainan pesan berantai, sebuah permainan klasik yang membisik pesan dari orang terdepan sampai ke belakang. Dari permainan tersebut, saya ingin menjelaskan bagaimana masyarakat bisa berkomunikasi via sms, handphone, internet dll. Dan ditutup dengan bernyanyi bersama diiringi dengan gitar. Ada 2 hal yang cukup berkesan bagi saya saat ini. Pertama ketika di kelas 2 SD, ada seorang anak yang meminta untuk 7 langkah cuci tangan kembali dinyanyikan dan mereka bersemangat sekali. Semoga mereka tidak hanya senang lagu nya tetapi juga melakukannya. Yang kedua ketika ada 1 anak laki – laki kelas 3B yang sangat bersemangat ketika mengikuti permainan pesan berantai. Yang membuat hati saya tersentuh ketika akhirnya saya tahu kalau anak tersebut tuna wicara. Dia sangat bersemangat danmau menjadi orang yang terdepan di kelompoknya yang artinya dia yang menerima pesan pertama sekali. Melihat semangatnya saya tidak tega untuk memintanya tidak menjadi orang yang pertama. Akhirnya saya tetap membiarkan dia membisikkan pesan ke teman di belakangnya, namun saya mengulang nya kembali ke temannya. Ketika istirahat pun saya melihat dia duduk menyendiri. Saya menghampirinya, berusaha berkomunikasi dengan seadanya. Senang dan merasa tertegur melihat semangatnya walaupun memiliki keterbatasan.

Belajar Sambil Bernyanyi

Belajar Sambil Bernyanyi (Photo Credit : Hairil Saleh)

Setelah itu Ale kembali berdongeng mengenai makanan sehat. Sekali lagi, Ale berhasil membius kami semua.  Setelah itu anak – anak mengisi cita – cita di bintang pada spanduk langit mimpi yang kami bawa. Sembari menunggu teman – teman lainnya, anak – anak duduk berkelompok di tangga sambil bermain games bersahut – sahutan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain (lagu Pulau apa 3x saudara sekarang pulau apa2x saudara ?). Puncaknya, kami membentangkan bendera merah putih di lapangan yang berukuran 7,5 m x 5 m (menurut saya ini bendera terbesar yang pernah ada di Pulau ini). Diawali dengan relawan yang membentangkan bendera kemudian anak – anak berlarian ke tengah, dibawah bendera sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Guru – guru ikut bergabung dengan kami.

20151021005912

Photo Credit : Hairil Saleh

20151021005924

Photo Credit : Hairil Saleh

Rangkaian hari inspirasi ditutup dengan berfoto bersama di pinggir pantai bersama anak – anak dan guru. Kemudian kami berpamitan dengan guru-guru menyematkan pin KIJP dan medali yang kami serahkan untuk anak-anak, bapak dan ibu guru di SD Pulau Kelapa 02 pagi, foto bersama dan kembali ke home stay.

20151021005555 (3)

Photo Credit : Hairil Saleh

20151021004727

Photo Credit : Hairil Saleh

Besoknya kami pulang ke Jakarta. Dikarenakan kami pulau pertama yang dijemput, kami “memaksa” relawan – relawan dari Pulau Panggang, Pulau Pramuka dan Pulau Untung Jawa untuk menyaksikan kami bernyanyi “7 Langkah Cuci Tangan” lengkap dengan gayanya. Cara ini cukup ampuh untuk menanamkan 7 Langkah Cuci Tangan ke para relawan dan dikenang relawan juga.

Sekali lagi, saya senang dan merasa bersyukur masih boleh terlibat di batch 4 ini. Boleh mengenal relawan – relawan keren yang mau berlelah – lelah dan melakukan yang terbaik tanpa pamrih untuk anak – anak Kepulauan Seribu. Kami mungkin tidak melakukan hal yang besar untuk Indonesia, kami hanya bisa melakukan hal kecil dengan harapan bisa memberikan manfaat dari apa yang kami lakukan. Untuk anak – anak pulau Kelapa, saya bangga, terharu dan terinspirasi boleh berkenalan dan beraktivitas bersama. Tetap semangat dan kerja keras untuk kejar cita – cita kalian ya !!! Sampai ketemu lagi !!! Salam Matahari !!! Bangun Inspirasi Anak Indonesia !!!

Untuk video kegiatan kami dapat dilihat di link ini : https://goo.gl/FPEsae

Posted in KIJP (Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau) | Leave a comment

Terpanggang di Pulau Panggang ? Tentu tidak !!! # KIJP Batch 3

Apa yang terlintas di benak kita kalau tahu ternyata ada Pulau Panggang di Indonesia ? Kalau saya sih, bertanya kenapa pulau ini disebut pulau panggang. Akhirnya, karena tingkat keingintahuan saya akut, saya bertanyalah pada Google.

Pulau Panggang merupakan salah satu pulau yang masuk Pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (Pemkab Kep Seribu). Pulau Panggang ditetapkan sebagai kelurahan pada Agustus 1986, namun karena meningkatnya status Kep Seribu dari kecamatan menjadi kabupaten administrasi, Kelurahan Pulau Panggang disahkan kembali pada 27 Juli 2000 silam. Menempati area 62,10 hektar, Kelurahan Pulau Panggang kini dihuni sekitar 5.443 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Keistimewaan lain dari Kelurahan Pulau Panggang adalah, terpusatnya Pemkab Kep Seribu yang berada di Pulau Pramuka yang menjadi bagian dari Kelurahan Pulau Panggang. Sedangkan di Pulau Karya terdapat Kantor Teknis Suku Dinas dan Seksie, serta Kantor Kepolisian Resort Kep Seribu.

Asal-usul nama Pulau Panggang sendiri tak lepas dari mitos seputar bajak laut. Pulau Panggang diambil dari nama pemanggang. Tempat ini ratusan tahun silam adalah tempat persinggahan bajak laut. Di karang gosong dekat pulau mereka memanggang manusia tawanan juga kapal-kapal rampasan. Oleh sebab itu, pulau ini dinamai Pulau Panggang.
Ada juga versi lain bahwa nama pulau ini juga tidak terlepas dari legenda Pendekar Darah Putih. Dimana Pendekar Darah Putih ini berhasil mengusir dan membuat jera perompak dengan “siasat pemanggangannya” sehingga pulau ini disebut Pulau Pemanggangan atau sekarang yang lebih dikenal dengan Pulau Panggang.

SDN 03 Pulau Panggang  IMG_20150329_181124976_HDR

Saya bersyukur kalau 29 – 31 Maret 2015 yang lalu diberi kesempatan untuk datang ke pulau ini pada kegiatan Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau Batch 3 yang lalu. Saya bersama relawan – relawan lain.

Ada yang berbeda di KIJP batch 3 ini jika dibandingkan dengan batch 2. Di Batch 3 ini, kami melakukan kegiatan Masyarakat (M) dan Linkungan (L), selain kegiatan Sekolah di hari Insipirasi. Untuk Pulau Panggang, untuk kegiatan M nya kami mengadakan nonton bareng yang diadakan Minggu, 29 Maret 2015 yang lalu. Sebenarnya kami berharap ada orang tua yang ikut dalam kegiatan ini, ternyata hanya anak – anak yang datang. Tapi tidak apa – apa, setidaknya tetap bisa membagikan energi positif ^-^ Kami menyulap 2 ruang kelas yang digabungkan menjadi bioskop sederhana, membuat tiket dan snack gratis untuk anak – anak yang nonton. Kami berharap anak – anak boleh merasakan bagaimana rasanya nonton di bioskop seperti yang anak – anak di kota besar. Ada 2 film pendek yang kami tayangkan, film yang kami harapkan bisa memberi inspirasi untuk anak – anak di pulau Panggang. kebetulan untuk kegiatan ini, saya menjadi operator pemutar filmnya, jadi selama anak – anak menyaksikan film yang ditayangkan, saya ada di dalam bersama – sama dengan mereka. Satu hal yang membuat hati saya miris adalah ketika banyak dari mereka yang bertanya dengan pertanyaan seperti ini : ” Pak ! Kapan hantunya keluar ? … Pak… Mana film horrornya ? ” Saya hanya tersenyum dan menjawab, “Hari ini tidak ada film horor ya, kita akan nonton film yang lain dan gak kalah bagusnya.” Anak – anak di pulau Panggang ini tidak memiliki akses informasi yang cukup, jadi mereka hanya mengandalkan apa yang ditayangkan di televisi. Dan melihat respon mereka, berarti film yang sering mereka tonton adalah film genre ini yang kemungkinan besar mereka saksikan dari layar televisi rumah mereka masing – masing. Bukan berarti film horor itu jelek dan tidak berguna, namun alangkah baiknya jika stasiun televisi yang ada di Indonesia ini tidak selalu mengagung – agungkan rating dengan menayangkan film horor, ada baiknya ditayangkan film yang inspiratif, dimana film – film inspiratif ini juga sudah mulai banyak. Sehingga jika ditayangkan, bisa memberikan hal – hal yang positif bagi mereka. Selesai menonton, anak – anak pulang dan beristirahat, kami kembali ke penginapan untuk mempersiapkan hari inspirasi besok.

Senin, 30 Maret 2015, bangun pagi – pagi, bawa gitar, berpakaian serapi – rapinya dan sewangi – wanginya untuk memulai hari inspirasi ^-^. Hari itu saya memperkenalkan profesi saya sebagai IT Network Engineer kepada anak – anak. Seperti yang saya rasakan di batch sebelumnya, mengajarkan IT Network ke anak – anak bukanlah hal yang gampang, terutama untuk anak – anak pulau yang kurang terakses dengan perkembangan teknologi. Saya memperkenalkannya dengan menggunakan games pesan berantai, sehingga mereka mengerti, bagaimana siaran televisi, sms, email atau apapun itu bisa dinikmati walaupun jarak memisahkan (aseeeek…..). Selain itu saya selalu membawa gitar ketika mengajar anak -anak untuk memberitahu mereka, jika mereka punya hobi yang walaupun itu bukan bidang akademis (seperti bermusik, olah raga, seni peran dll), jika mereka mau berusaha untuk ahli di bidang tersebut, mereka dapat menjadikan itu sebagai cita – cita mereka dan hidup dari bidang tersebut. Sekali lagi, mereka sangat senang untuk bernyanyi lagu daerah dan nasional yang sepertinya akan sulit kita temukan pada anak – anak di kota besar saat ini yang lebih menyenangi lagu – lagu kekinian. Saya senang karena mereka antusias, walau akhirnya saya lebih dikenal sebagai pemusik dibandingkan IT Network Engineer. Bahkan ketika istirahat, beberapa dari mereka mendatangi saya untuk minta diajarkan main gitar.

IMG_20150330_075326175KIJP Panggang SDN Panggang 03 (39 of 330)

Setiap batch selalu ada pengalaman unik dan menyentuh bagi saya. dan kali ini salah satunya terjadi ketika waktu sekolah selesai dan sesi foto bersama selesai. Ada seorang anak perempuan kelas 4 SD mendatangi saya dan berkata, ” Pak, Saya mau kasih tahu cita – cita saya ke Bapak, tapi Bapak janji jangan bilang ke yang lain ya Pak. Karena kalau saya bilang cita – cita ini ke teman – teman saya, mereka akan menertawakan saya.” Si anak tertunduk dan kesedihan terlihat di mukanya ketika berbicara ke saya. Kemudian dia melanjutkan “curhatnya” ke saya, ” Saya mau jadi penyanyi Pak….. itu bagus kan Pak ?”. Saya terdiam sejenak dan menjawab, ” Selama yang dicita – citakan baik dan kamu mau berusaha untuk mewujudkannya, tidak ada yang salah. Jadi penyanyi bagus, berarti kamu harus belajar bernyanyi dengan baik dan tetap sekolah yang rajin ya….” Si Anak tersebut langsung ceria dan berkata ” Benar Pak !!???!!! Iya Pak, saya mau jadi penyanyi dan rajin belajar… Makasih ya Pak….. Siang….!!!” Si Anak menyalam tangan saya dan pulang dengan keceriaan. Saya senang anak tersebut kembali tidak tertunduk lagi, seperti dia mendatangi saya sebelumnya.

KIJP Panggang SDN Panggang 03 (33 of 330)

Selesai dari sekolah, siangnya kami mengadakan Amazing Race yang merupakan rangkaian dari kegiatan Lingkungan. Kami membagi ke beberapa pos ada Pos tentang pengenalan lingkungan, budaya Indonesia dll. Saya bertugas di pos budaya Indonesia. Di Pos ini kami membentangkan peta Indonesia. Kami memberikan beberapa soal untuk mengenalkan Indonesia ke anak – anak yang terbagi dalam beberapa kelompok. Kami menunjukkan gambar pahlawan, pakaian daerah, rumah adat dan menyanyikan Lagu daerah. Kemudian anak – anak akan menebaknya dengan menempelkan kertas di peta Indonesia yang ada, provinsi yang merupakan daerah asal dari lagu, pakaian, rumah maupun pahlawan tersebut. Ternyata masih banyak anak – anak yang tidak mengetahui jawaban dari soal – soal yang kami tanyakan. Ada juga yang tahu jawabannya tetapi tidak mengetahui provinsi itu ada dimana, contohnya : Lagu Butet, mereka tahu kalau lagu ini berasal dari Sumatera Utara, tapi mereka menempelkan kertasnya di Maluku. Miris, tetapi ini jadi pekerjaan rumah untuk batch – batch selanjutnya jika kembali ke Pulau ini.

KIJP Panggang SDN Panggang 03 (237 of 330)

Dan seluruh rangkaian kegiatan ini kami tutup di tepi pantai, dengan membagikan hadiah snack ke anak – anak. Melihat pemandang dan suasana riang anak – anak merupakan pengalaman yang tidak terbayarkan. Jujur saja, menghadapi anak – anak yang super aktif, keadaan pulau yang panas seperti terpanggang, serta sulitnya air bersih (di pulau Panggang airnya payau) bukan hal yang gampang untuk dihadapi, tetapi jika mengingat tujuan kami ke sana, melihat kecerian anak – anak semuanya tak terasa lagi. Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau, jika terlihat namanya dan kegiatan yang kami lakukan, kamilah yang menginspirasi anak – anak di kepulauan seribu, tapi… tunggu dulu….. menurut saya, yang terinspirasi adalah kami para relawan. Apa yang kami lakukan bukan hal yang hebat sekali, tetapi kami hanya lakukan apa yang kami bisa dengan segala keterbatasan kami dengan harapan anak – anak Pulau Panggang khususnya dan masyarakat Pulau Panggang umumnya dapat mendapatkan hal positif dari yang kami lakukan di Pulau Panggang.

IMG_20150330_174846272   IMG_20150329_175048006_HDR

Tanggal 11 – 13 Oktober 2015 ini, kami akan kembali ke 8 pulau yang pernah kami datangi di batch 1 – 3 ( Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Tidung, Pulau Panggang dan Pulau Payung) dan 1 pulau baru yaitu Pulau Untung Jawa. Semoga kami tetap semangat dan terus berjuang untuk memberi inspirasi dan terinspirasi di kegiatan KIJP Batch 4 ini. Mohon doa nya teman – teman semua…

NB: Kegiatan kami di Pulau Panggang dapat dilihat di sini : https://goo.gl/zyB2QB

Posted in KIJP (Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau) | 3 Comments

Bekasi… Here I Come…..

Bekasi…… Beberapa saat yang lalu, bahkan sampai sekarang, kota ini masih sering dijadikan bahan “ledekan”. Namun hal ini tidak memberatkan langkah kami untuk memberikan sedikit sumbangsih untuk masyarakatnya, terutama anak – anak. Hari Inspirasi untuk KI Bekasi ini dilaksanakan tanggal 9 April 2015 yang lalu, dan kali ini saya beserta relawan lain tergabung di kelompok 1 yang akan mengajar di SDN Marga Mulya 1. Kami berasal dari beragam profesi mulai dari IT, Arsitek, Perbankan, Broadcasting, Kuliner dll.

Senyum sebelum mengajar....

Senyum sebelum mengajar…. !!!

“Kenali musuhmu sebelum berperang”, mungkin inilah salah satu taktik yang kami terapkan. Bukan menganggap anak – anak SDN Marga Mulya 1 sebagai musuh (seram amat…. hehehe), namun kami ingin mengetahui kondisi sekolah untuk memaksimalkan hari inspirasi, maka kami melakukan survey ke SD tersebut. Untuk kondisi fisik, letak SDN tersebut terlihat dari Jl. Perjuangan, namun dipisahkan dengan sungai kecil, yang tinggi permukaan airnya hampir sama dengan tinggi halaman SDN tersebut. Hal yang terlintas di pikiran saya, “Bagaimana kalau hujan ya ? Kondisi ini pasti tidak nyaman untuk anak – anak bersekolah.” Namun saya berpikir, “Ya sudahlah, saatnya berdoa supaya ketika hari inspirasi tidak hujan.” Bukan kondisi yang ideal untuk sebuah sekolah, namun saya berpikir stop untuk fokus pada kekurangan yang ada dan mengeluh tapi berikan yang terbaik di tengah keterbatasan yang ada,Kami bersyukur disambut oleh guru – guru yang ramah dan sangat mendukung kami untuk kegiatan ini. Salah satu yang jadi catatan bagi saya adalah ternyata mayoritas siswa, orang tuanya berstatus ekonomi menengah ke bawah. Dengan semua kondisi yang dibukakan cukup bagi kami untuk bisa menyiapkan yang terbaik di hari inspirasi kelak.

Hari yang ditunggu – tunggu pun tiba, perjalanan dimulai pukul 4.30 dari kos, mengejar kereta ke Bekasi via stasiun Duren Kalibata. Sesampainya di stasiun Bekasi, dilanjutkan dengan angkot untuk mencapai SDN Marga Mulya 1. Hal yang dikhawatirkan sebelumnya pun terjadi, pagi itu hujan. Halaman pun tergenang dengan air. Acara opening yang sudah kami rencanakan, terpaksa dibatalkan sambil berharap siang nanti halaman sudah cukup kering sehingga closing yang sudah kami rencanakan dapat berjalan dengan lancar.

Saat itu saya mengajarkan profesi saya sebagai seorang IT Network Engineer. Jujur bukan hal yang gampang untuk menjelaskan profesi ini ke anak – anak SD, terutama anak – anak kelas 1 – 3. Jadi saya mencoba merancangnya dengan menggunakan games pesan berantai karena menurut saya games ini yang cukup bisa menjelaskan bagaimana SMS / Siaran Televisi / Internet dapat dinikmati oleh penggunanya. Jika dibandingkan dengan pengalaman mengajar di kepulauan Seribu, anak – anak di SD ini cukup lebih bisa diatur. Walau selalu saja karna rasa antusias yang tinggi, mereka terkadang agak sulit dikendalikan (hehehe). Selain itu saya mengajak anak – anak untuk refreshing dengan bernyanyi sambil bergerak (Ksatria bergitar mode on…..). Ada satu hal yang membuat saya tertegun, ketika saya menjelaskan tentang siaran televisi, ada satu anak yang menunduk malu. Akhirnya saya dekati dan bertanya ada apa, ternyata dia seorang anak pengamen yang tidak memiliki televise di rumahnya. Namun setelah diberikan pengertian dan dialihkan ke contoh yang lain anak tsb kembali focus, tapi pengalaman itu memberikan pengalaman yang sangat berarti untuk saya.

ayo Bermain...

Ayo bermain sambil belajar… !!!

Ayo bernyanyi, mengolah tubuh, sambil belajar....

Ayo bernyanyi, mengolah tubuh, sambil belajar….

Gantungkan cita - citamu setinggi langit :D

Gantungkan cita – citamu setinggi langit 😀

Setelah siang hari, saya bersyukur karena hujan sudah reda dan lapangan kering sehingga kami bisa menutup hari inspirasi tersebut dengan closing berupa ice breaking, flash mob, pelepasan balon dan foto bersama (Ada beberapa SD yang tidak bisa melakukan opening dan closing karena halaman SDN mereka yang terendam air). Kami menggunakan lagu Terhebat by Coboy Junior untuk lagu flash mob. Lagu ini kami pilih karena memiliki arti yang bagus di tengah kurangnya lagu anak – anak yang baik saat ini. Lagu yang mengatakan bahwa kita jangan takut untuk menghadapi rintangan dan kegagalan dalam meraih apa yang kita impikan, tetapi mulai dan berjuang untuk menjadi terhebat dan meraih apa yang kita impikan. Pelepasan balon yang diikatkan dengan cita – cita mereka dan tulisan “Bangun Mimpi Anak Indonesia” sebagai symbol untuk anak – anak ini, bahwa apapun latar belakang kita dan kondisi kita, kita berhak untuk bercita – cita tinggi dan berjuang untuk meraihnya.

Walau hanya satu hari, saya bersyukur terlibat dalam KI Bekasi kali ini. Mengenal orang – orang hebat yang mau meluangkan waktu, tenaga dan dana untuk menginspirasi anak – anak. Kami tidak melakukan hal yang besar dan hebat, kami hanya memberikan apa yang bisa kami berikan tanpa banyak mengeluh tentang kondisi yang ada dan kami berharap kehadiran kami boleh memberikan semangat untuk anak – anak SDN Marga Mulya 1 untuk giat belajar dan berjuang meraih cita – citanya dan Tuhan pasti akan membantu… Untuk teman – teman yang tertarik terlibat dalam kegiatan Kelas Inspirasi, saat ini pendaftaran KI Jakarta sudah dibuka, ayo…. Kita lakukan bagian kita dengan tulus, semangat dan memberikan yang terbaik….. Mari bangun mimpi anak Indonesia !!!

Relawan SDN Marga Mulya 1

Relawan SDN Marga Mulya 1

Relawan, Guru & Murid SDN Marga Mulya 1

Relawan, Guru & Murid SDN Marga Mulya 1

Posted in Kelas Inspirasi | Leave a comment

Tarombo !!! I’m proud to be Simanjuntak :D

Mumpung masih bulan Februari dan mumpung belum kelamaan .. mau cerita sedikit tentang liburan tahun baru Januari kemarin…

Liburan tahun baru tahun ini kurang lebih hampir sama seperti teman – teman yg mudik lainnya. Tapi kalau mau diceritain detail, sepertinya terlalu panjang.. hehehe… jadinya hanya yang berkesan bagi saya saja yang ingin saya ceritakan.

Setelah pergi ke gereja tanggal 31 Desember 2014 malam untuk kebaktian tutup tahun, setelah itu kami kumpul di rumah Tulang W. Pardede untuk kebaktian awal tahun. Jadi, tepat pukul 00.00 kami memulai kebaktian awal tahun, berdoa baca Alkitab, bernyanyi, dan yang paling khas dari kebiasaan buka tahun orang Batak adalah Mandok Hata, dimana setiap anggota keluarga talk heart to heart ke semua yang ada pada kebaktian saat itu. Biasanya yang disampaikan ucapan selamat tahun baru, maaf – maafan dan sedikit cerita goal yang ingin dicapai tahun depan, mulai dari yang termuda sampai tertua. Pagi harinya kami kebaktian awal tahun di Gereja.

Setelah itu, mulailah mengunjungi anggota keluarga. Karena Papa anak ke-tiga dan saudara tertua Papa (Amangtua tidak berdomisili di Medan dan sudah almarhum), kami pun pergi ke rumah Amang tua A. Simanjuntak, abangnya Papa. Nah, di rumah amang tua ini lah saya mengalami hal yang sangat berkesan. Setelah sekian lama tidak pernah liat foto Ompung U.P Simanjuntak saat muda, akhirnya melihat foto beliau. Ompung Doli (kakek )sudah dipanggil Tuhan dari saya umur 3 tahun dan Ompung boru (nenek) sudah dipanggil Tuhan ketika saya SD, jadi tidak sempat mengenal mereka. Menurut mama dan papa salah satu yang punya peran dalam menanamkan musik ke diriku … ya ompung ini, karena ompung bisa main organ dan sepertinya itu turun ke saya (thanks OmpungI wish I could play a song for you…..).

IMG_20150101_141029923

Di rumah amang tua, saya juga melihat tarombo Simanjuntak. Tarombo ini seperti silsilah untuk kami orang Batak. Jadi kalau dilihat dari tarombo Simanjuntak. Saya itu Simanjuntak Mardaup No. 16 (keturunan ke-16). Mungkin beberapa orang melihat tarombo ini sebagai suatu hal yang ribet, tapi bagi saya ini merupakan hal yang penting dimana saya tahu dan menghargai akar keluarga saya. Dan salut juga ya…. Tetap terdokumentasi dengan baik, padahal sudah sampai keturunan ke-16, bahkan lebih untuk beberapa keluarga. Di Tarombo ini juga tahu, ternyata bukan cuma mama dan ompung boru saya saja yang boru Pardede, ternyata ompungnya papa bahkan Ompungnya Ompung saya juga boru Pardede hahaha… gak bisa move on dari br. Pardede, semoga saya bisa… hehehe  (Peace Mama, Tulang .. dan Pardede lainnya…. hehehe)

Tarombo Simanjuntak

Tapi apapun itu, saya senang tahu dari mana saya berasal dan pastinya akan meneruskan ke anak cucu saya nantinya… AMIN….. Bangga menjadi orang Batak dengan segala warisan budayanya. Dan semakin tahu, kenapa kekeluargaan di Batak itu erat, salah satunya karena tarombo ini. Semoga saya dan teman – teman Batakers generasi muda tetap bisa menjaganya dan meneruskannya. HORAS !!!

Posted in Speak Out... !!! | Leave a comment